Asesmen Otentik

1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Di dalam pendidikan, asesmen seharusnya didasarkan pada pengetahuan kita tentang belajar dan tentang bagaimana kompetensi berkembang dalam materi pelajaran yang kita ajarkan. Hal ini merupakan kebutuhan yang sangat jelas untuk membuat suatu asesmen dimana pendidik dapat mempergunakannya untuk meningkatkan kegiatan pendidikan dan mengawasi hasil belajar dan mengajar yang kompleks.
Dari beberapa penelitian ditemukan bahwa para guru mengajar untuk memberikan keterampilan pada siswa untuk belajar dan mempraktekkan bagaimana mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya untuk tujuan yang nyata dan jelas. Penilaian kinerja yang berkisar dari jawaban yang relative pendek sampai pada proyek jangka panjang yang meminta para siswa untuk memperagakan hasil kerjanya, dan hal ini membutuhkan peran serta pemikiran tingkat tinggi siswa untuk menyatukan beberapa keterampilan yang berbeda-beda.
Dalam suatu system penilaian yang lengkap, bagaimana-pun semestinya terdapat keseimbangan antara penilaian kinerja yang lebih pendek dan juga lebih panjang. Asesmen dapat digunakan untuk melihat keberhasilan KBM yang dilakukan sebagai acuan dalam membuat kegiatan/program baru dalam rangka mengembangkan keterampilan dan pengetahuan para siswa dan juga para guru, juga sebagai bahan petimbangan dalam membuat suatu kebijakan-kebijakan.
Pembelajaran Berbasis Kompetensi merupakan wujud pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi sebagai currĂ­culum in action. Salah satu rangkaian pembelajaran berbasis kompetensi pelaksanaan adalah evaluasi pembelajaran berbasis kompetensi. Mengacu pada asumsi bahwa pembelajaran merupakan sistem yang terdiri atas beberapa unsur, yaitu masukan, proses dan keluaran/hasil maka terdapat tiga jenis evaluasi sesuai dengan sasaran evaluasi pembelajaran, yaitu evaluasi masukan, proses dan keluaran/hasil pembelajaran. Evaluasi masukan pembelajaran menekankan pada evaluasi karakteristik peserta didik, kelengkapan dan keadaan sarana dan prasarana pembelajaran, karakteristik dan kesiapan dosen, kurikulum dan materi pembelajaran, strategi pembelajaran yang sesuai dengan mata kuliah, serta keadaan lingkungan dimana pembelajaran berlangsung.
Evaluasi proses pembelajaran menekankan pada evalusi pengelolaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh pembelajar meliputi keefektifan strategi pembelajaran yang dilaksanakan, keefektifan media pembelajaran, cara mengajar yang dilaksanakan, dan minat, sikap serta cara belajar mahasiswa. Evaluasi hasil pembelajaran atau evaluasi hasil belajar antara lain mengguakan tes untuk melakukan pengukuran hasil belajar sebagai prestasi belajar, dalam hal ini adalah penguasaan kompetensi oleh setiap pelajar.
Terkait dengan ketiga jenis evaluasi pembelajaran tersebut, dalam praktek pembelajaran secara umum pelaksanaan evaluasi pembelajaran menekankan pada evaluasi proses pembelajaran atau evaluasi manajerial, dan evaluasi hasil belajar atau evaluasi substansial. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran kedua jenis evaluasi tersebut merupakan komponen sistem pembelajaran yang sangat penting. Evaluasi kedua jenis komponen yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pelaksanaan dan hasil pembelajaran. Selanjutnya masukan tersebut pada gilirannya dipergunakan sebagai bahan dan dasar memperbaiki kualitas proses pembelajaran menuju ke perbaikan kualitas hasil pembelajaran.

1.2 Rumusan masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Asesmen Otentik serta manfaatnya?
2. Jelaskan perbandingan Asesmen Otentik dengan Asesmen Non Otentik?
3. Sebutkan dan jelaskan bentuk – bentuk penerapan Asesmen Otentik?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Asesmen Otentik serta manfaatnya
2. Mengetahui perbedaan Asesmen Otentik dengan Asesmen Non Otentik
3. Menjelaskan bentuk – bentuk penerapan dari Asesmen Otentik









2. Bahasan
2.1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Asesmen Otentik
Pada dasarnya, suatu sistem penilaian yang baik adalah tidak hanya mengukur apa yang hendak di ukur, namun juga dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa agar lebih bertanggungjawab atas apa yang mereka pelajari, sehingga penilaian menjadi bagian integral dari pengalaman pembelajaran dan melekatkan aktivitas autentik yang dilakukan oleh siswa yang dikenali dan distimulasi oleh kemampuan siswa untuk menciptakan atau mengaplikasikan pengetahuan yang mereka dapat di ranah yang lebih luas dari pada hanya menguji memori atau kemampuan dasar saja (Earl&Cousins, 1995; Stiggins, 1996; Hargreaves, dkk, 2001).
Oleh karena itulah, sistem evaluasi belajarpun mulai berkembang dari sistem yang bersifat tradisional menjadi sistem penilaian yang lebih autentik (authentic assessment). Autentic assessment dianggap mampu untuk lebih mengukur secara keseluruhan hasil belajar dari siswa karena penilaian ini menilai kemajuan belajar bukan melulu hasil tetapi juga proses dan dengan berbagai cara. Dengan kata lain sistem penilaian seperti ini dianggap lebih adil untuk siswa sebagai pembelajar, karena setiap jerih payah yang siswa hasilkan akan lebih dihargai (Sudrajat, 2007). Gulikers, Bastiaens & Kirschner (2004) menjelaskan bahwa authentic assesment menuntut siswa untuk menggunakan kompetensi yang sama atau mengkombinasikan pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang dapat mereka aplikasikan pada kriteria situasi dalam kehidupan professional.
Asesmen otentik dapat kita lihat berbagai macam jenis. Berikut ini ada beberapa pengertian terhadap asesmen otentik. Pertama, Asesmen otentik adalah soal-soal tes atau latihan yang sangat mendekati hasil pendidikan sains yang diinginkan. Latihan-latihan informasi dan penalaran ilmiah pada situasi yang akan mereka hadapi di luar kelas. Kedua, suatu asesmen dinyatakan otentik apabila asesmen tersebut melibatkan peserta didik/pelajar pada tugas-tugas yang bermanfaat, penting, serta bermakna (hart, 1994). Asesmen semacam it akan terlihat sebagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan keterampilan berfikir tinggi serta koordinasi tentang pengetahuan yang luas. Ketiga, Asesmen otentik menantang peserta didik untuk menerapkan informasi maupun ketrampilan akademik baru dalam suatu situasi riil untuk suatu maksud yang jelas. Asesmen otentik memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya sekaligus memperlihatkan apa yang telah dipelajarinya (Johnson, 2002). Lebih lanjut dinyatakan bahwa Asesmen otentik mendorong peserta didik untuk menggunakan pengetahuan ilmiah pada suatu konteks riil untuk suatu maksud yang jelas. Keempat, Asesmen otentik yang terkait presentasi pendidikan secara langsung mengukur pembuatan atau penampilan yang sebenarnya pada suatu mata pelajaran. Kelima, Asesmen otentik adalah sutu cara pengukuran penguasaan peserta didik terhadap suatu mata pelajaran dengan cara yang lain dibanding regugitasi sederhana dari pengetahuan. Asesmen otentik haus mengukur proses pemahaman dan bukan sederhana potongan-potongan informasi yang dihafal. Keenam, Memeriksa atau menguji kemampuan kolektif seseorang dalam rangka mengevaluasi swcara tepat apa yang dipelajarinya. Dalam hubungan ini Asesmen otentik mengarah kepada tiap tujuan seperti dibawah ini.
• Menuntut peserta didik menegmbangkan respond an bukan sekedar untuk memiliki pilihan yang telah ditetapkan.
• Membangkitkan pemikiran yang dewasa disampinh keterampilan dasar.
• Mengevaluasi tugas secara menyeluruh.
• Menyatu dengan pengajaran.
• Menggunakan contoh-contoh kerja peserta didik yang dikumpulkan dalam waktu yang lama.
• Berasal dari kriteria yang jelas untuk peserta didik.
• Memungkinkan muncul banyak pendapat.
• Berhubungan lebih dekat dengan pembelajaran di kelas.
• Mengajar peserta didik untuk mengevaluasi pekerjaannya sendiri.
Ketujuh, suatu asesmen dikatakan otentik bila asesmen tersebut memeriksa/menguji secara langsung perbuatan atau [restasi peserta didik berkaitan dengan tugas intelektual yang layak. Dalam hal ini Asesmen otentik menuntut peserta didik untuk menjadi pelaku/orang yang efektif yang memiliki pengetahuan yang dibutuhkan. Asesmen menjadi otentik bilamana pembelajaran yang diukur oleh asesmen itu memiliki nilai di luar kelas serta bermakna bagi peserta didik. Kedelapan, Asesmen dikatakan otentik apabila peserta didik dapat mendemonstrasikan apa yang mereka miliki dalam konteks kehidupan riil.
Berikut ini dikemukakan pula karakterisitik asesmen otentik yang menunjuk pada sumber tertentu. Adapun asesmen otentik tersebut adalah bahwa asesmen itu:
• Merupakan suatu bagian tak terpisahkan dari bagian kelas.
• Merupakan cerminan dari dunia nyata bukan sebagai jenis kerja sekolah yang memecahkan masalah.
• Menggunakan banyak ukuran/metode/kriteria.
• Bersifat komperenshif dan holistik.
Menfaat Asesmen Otentik
Berikut ini adalah manfaat asesmen otentik bagi para peserta didik. Dalam hal ini manfaat asesmen otentik bagi peserta didik:
• Menunjukkan secara lengkap seberapa baik pemahaman terhadap materi akademik.
• Menunjukkan dan memperkuat kompetensi-kompetensi seperti pengumpulan informasi, pemanfaatan sumber penanganan teknologi dan pemikaran sistematik.
• Menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka, dunia mereka maupun masyarakat yang lebih luas.
• Meningkatkan keterampilan berfikir tinggi seperti analisis, sintesis, identifikasi permasalahan, menemukan solusi, serta mengikuti hubungan sebab-akibat.
• Menerima tanggung jawab dan membuat pilihan-pilihan.
• Menghubungkan mereka dengan orang lain, termasuk berkolaborasi dalam tugas.
• Belajar mengevaluasi tingkat kinerja mereka sendiri.

2.2 Mengetahui perbedaan asesmen otentik dengan asesmen non otentik
2.2.1 Asesmen Otentik dengan Asesmen Tradisional
Berbicara dengan asesmen otentik, sebenarnya kita juga berbicara dengan asesmen non otentik, “lawan” dari asesmen otentik bukan asesmen lain, tetapi asesmen non otentik, karena sudut pandangnya memang demikian. Oleh karena itu ialah tidak tepat bila membayangkan lawan dari asemen otentik adalah asesmen yang menggunakan alat paper dan pensil test secara otomatis bersifat non otentik. Tradisional tidak serta merta menjadi alat ukur pada asesmen non otentik, demikian pula tradisional asesmen tidak segaligus tergolonh asesmen non otentik. Berikut ini perbandingan asesmen otentik dengan asesmen non otentik:
Asesmen Otentik Asesmen Tradisional
• Waktu ditentukan oleh guru dan siswa
• Mengukur kecakapan tingkat tinggi
• Menerapkan strategi-strategi kritis dan kreatif
• Memiliki perspektif menyeluruh
• Menggunakan standar individu
• Bertumpu pada internalisasi
• Solusi yang benar banyak
• Mengungkap proses
• Mengajar demi kebutuhan • Periode waktu khusus
• Mengukur kecepatan tingkat rendah
• Meningkatkan tugas dan latihan
• Memiliki perspektif sempit
• Mengungkap fakta
• Menggunakan standar kelompok
• Bertumpu pada ingatan (memorisasi)
• Hanya satu solusi yang benar
• Mengungkapkan kecakapan
• Mengajar untuk ujian

2.2.2 Asesmen Otentik dengan Asesmen Alternatif
Asesmen alternative adalah asesmen yang lain dari yang biasanya. Bentuk-bentuk asesmen alternative antara lain asesmen kinerja (perfomence), observasi, kegiatan bertanya, presentasi dan diskusi, proyek dan investigasi, portofoliao dan jurnal, wawancara dan konferensi, asesmen diri sendiri.jelaskan bahwa asesmen alternative bukan “lawan” dari asesmen otentik.
Contoh asesmen alternative antara lain mencakup pertanyaan terbuka, pemeran, demonstrasi, eksperimen, hands-on, penciptaan, produk baru, kinerja, portofolio. Dalam hal ini dinyatakan bahwa asesmen alternative mendorong siswa bukan hanay kecakapan-kecakapan dasar.
Apakah asesmen alternative tergolong asesmen otentik? Pada dasarnya asesmen alternative tidak tergolong asesmen otentik. Bagaimanapun asesmen alternative tergolong asesmen otentik atau tidak, ditentukan oleh manajemen pelaksanaan asesmen alternative tersebut. Sebagai contoh misalnya portofolio peserta didik yang hanya sekedar hasil editing dari portofoliao temannya, tentu saja sama sekali bukan merupakan bagian dari asesmen otentik. Demikian kegiata bertanya seorang peserta didik yang hanya sekedar memamerkan bahwa “saya” rajin bertanya dan sebagainya.
2.2.3 Asesmen Alternatif dengan Asesmen tradisional
Pada dasarnya “lawan” dari asesmen alternative adalah asesmen tradisional. Hal ini mudah dipahami bila kita memperhatikan contoh-contoh asesmen tradisonal yang sangat kuat bertumpu pada tes terutama “paper dan pensil test”. Dalam hal ini masih peril digarisbawahi bahwa asesmen alternatif tidak tergolong asesmen otentik dan asesmen tradisional juga tidak langsung tergolong non otentik.
2.3 Menjelaskan bentuk – bentuk penerapan dari Asesmen Otentik
Berikut ini bentuk-bentuk penerapan asesmen otentik.
Asesmen kinerja
Asesmen kinerja (Performance assessment) adalah suatu asesmen alternatif berdasarkan tugas jawaban terbuka (open-ended task) atau kegiatan hands-on yang dirancang untuk mengukur kinerja siswa terhadap seperangkat criteria tertentu. Tugas-tugas asesmen kinerja menuntut siswa menggunakan berbagai macam keterampilan, konsep, dan pengetahuan. Asesmen kinerja tidak dimaksudkan untuk menguji ingatan faktual, melainkan untuk mengases penerapan pengetahuan faktual dan konsep-konsep ilmiah pada suatu masalah atau tugas yang realistik. Asesmen tersebut meminta siswa untuk menjelaskan “mengapa atau bagaimana” dari suatu konsep atau proses. Dalam asesmen kinerja, siswa merestruktur informasi faktual tidak sekedar menyatakan ulang informasi tersebut. Sebagai misal, asesmen kinerja yang dikembangkan oleh McGraw-Hill School Division (2000), memberi siswa kesempatan untuk mendemonstrasikan Keterampilan-keterampilan Proses Sains mereka, berfikir secara logis, menerapkan pengetahuan awal ke suatu situasi baru, dan mengidentifikasi pemecahanpemecahan baru terhadap suatu masalah. Asesmen kinerja memungkinkan guru untuk:
1. Mengevaluasi siswa bagaimana menerapkan pengetahuan ilmiah
dan Keterampilan-keterampilan Proses.
2. Mengecek perkembangan Keterampilan-keterampilan Berfikir Kritis.
3. Mengases pembelajaran siswa dalam situasi yang realistik dengan Konteks yang berbeda-beda.
4. Mengukur kedalaman pemahaman dan pengertian siswa.
5. Mengevaluasi bagaimana kegigihan, keimajinasian, dan kekreartifan siswa pada saat menghadapi tugas-tugas.
Asesmen kinerja merupakan suatu komponen penting dari suatu asesmen autentik. Asesmen Otentik mengukur kinerja siswa dalam suatu tugas kehidupan realistik, situasi yang relevan, atau masalah yang memiliki tujuan dan kegunaan yang jelas, yang bermanfaat, bermakna, dan berarti. Bentuk asesmen ini sering melibatkan ide-ide kaya dan kompleks dan sejumlah bahan dan alat. Suatu tugas asesmen:
1. Melibatkan siswa aktif, meningkatkan minat dan motivasi siswa.
2. Sering tidak memiliki suatu pendekatan mudah pada masalah tersebut atau pemecahan pasti terhadap masalah tersebut.
3. Sering menghendaki siswa untuk melakukan penelitian atau mengumpulkan data. Mereka juga diminta untuk menaksir atau memperkirakan data.
4. Mempertimbangkan ide-ide dan pandangan-pandangan siswa sebagai komponen yang penting dan dapat dipercaya.
5. Sering menghendaki siswa untuk membuat asumsi dan keputusan.
6. Dapat memiliki beberapa jalan masuk yang mendorong siswa dengan tingkat pemahaman yang berbeda untuk mulai mengerjakan asesmen tersebut.
7. Sering memasukkan situasi-situasi yang memiliki pemecahan terbuka dan banyak kemungkinan.
8. Sering melibatkan metode-metode dan hasil-hasil yang beragam.
9. Umumnya memerlukan keterampilan presentasi dan komunikasi.
10. Umumnya lebih kompleks dan memerlukan pengalaman dari pada suatu tugas dalam tes tradisional.
11. Sering memodelkan jenis kegiatan yang terjadi selama pengajaran sains.
Setiap tugas asesmen kinerja terdiri dari halaman-halaman siswa, halaman guru untuk membantu mengadministrasikan tugas tersebut, dan suatu Rubriks pembijian yang telah dikemas. Setiap tugas asesmen kinerja dikaitkan dengan satu Keterampilan Proses Sains. Tugas-tugas kinerja ini mendorong siswa untuk mendemonstrasikan kemampuan mereka menerapkan Keterampilan-keterampilan Proses tertentu. Tugas-tugas tersebut bersifat terbuka untuk memberi siswa banyak kesempatan untuk berhasil. Banyak tugas asesmen kinerja melibatkan kerja-tim, kerja-sama, dan pembelajaran kooperatif. Tugas-tugas Kegiatan Penyelidikan, Pengembangan Keterampilan, danLab Mini, Merancang Eksperimenmu Sendiri dapat digunakan sebagai tugas-tugas kinerja.
Petunjuk-petunjuk berikut ini mungkin membantu pada saat mengadministrasikan suatu tugas kinerja.
1. Secara hati-hati telaah ulang perintah-perintah dan sesuatu yang diharapkan dari tugas tersebut.
2. Bila perlu, modelkan tugas atau kegiatan tersebut.
3. Tunjukkan contoh-contoh hasil kerja siswa dari tahun-tahun sebelumnya.
4. Jelaskan kepada siswa bagaimana mereka akan dievaluasi.
5. Telaah ulang kriteria pembijian pada Rubriks dan periksa kebenaran perbedaan antara kinerja “sangat baik,” “baik,” “cukup,” dan “jelek.”
6. Setelah pengasesan dan pengevaluasian tugas-tugas kinerja tersebut, guru dapat menggunakan kerja siswa untuk memulai suatu diskusi kelas tindaklanjut.
7. Dorong siswa untuk berbagi ide dan pendekatan mereka. Apabila tersedia tempat, peragakan kerja siswa di kelas.
Rubriks
Rubriks adalah seperangkat kriteria penskoran yang digunakan untuk mengevaluasi kerja siswa dan mengases kinerja siswa. Rubriks merupakan panduan yang membantu khususnya dalam pengasesan aspek multidimensional dari suatu asesmen kinerja. Rubriks dapat membantu guru dalam membuat perbedaan hasil belajar yang lebih halus daripada sekedar mengidentifikasi
suatu jawaban benar dan tidak benar. Penggunaan rubriks juga memungkinkan penskoran yang lebih reliabel, konsisten, dan tidak-bias.
Rubriks untuk Tugas-tugas Asesmen Kinerja merupakan rubriks analisis tugas-spesifik yang dikemas untuk tiap tugas subbab, bab, atau unit. Rubriks
tersebut menetapkan sejumlah katagori tugas-spesifik dengan kategori yang satu tidak bergantung dengan kategori yang lain. Rubriks tersebut digunakan untuk mengevaluasi kinerja siswa untuk tiap kegiatan. Tiap rubriks menggunakan skala yang sama untuk menjamin keseragaman dan reliabilitas penskoran: 4 = sangat baik, 3 = baik, 2 = cukup, 1 = jelek. Empat tingkat dari tiap Rubriks tersebut mempertimbangkan mudahnya penggunaan dengan daya pembeda yang cukup untuk menilai rentang kualitas dalam Tugas-tugas Asesmen Kinerja
tersebut. Rubriks yang sama digunakan untuk mengevaluasi skor total. Skor total tersebut menyediakan suatu cara yang mudah untuk mengkuantifikasikan asesmen guru atas kerja siswa.
Bila perlu guru dapat menelaah ulang Rubriks tersebut dan mendiskusikan tiap kriteria dengan kelas sebelum siswa mulai mengerjakan Tugas Asesmen Kinerja tersebut. Ini akan membantu siswa memahami apa yang diharapkan dari tugas tersebut dan bagaimana kinerja mereka akan diases. Jika mungkin, siswa ditunjukkan dua atau tiga contoh hasil kerja siswa yang mendapatkan skor “sangat baik.” Ini akan memodelkan standar sangat baik tersebut, menunjukkan suatu ragam pendekatan pada suatu tugas kinerja, dan mendorong kreativitas.


Asesmen Portofolio
Portofolio merupakan suatu asesmen alternatif berdasarkan pada sampel karya siswa yang dipilih secara seksama yang mendokumentasikan pertumbuhan dan kemajuan siswa dari waktu ke waktu. Portofolio memungkinkan guru mengases perkembangan siswa, memetakan evolusi pemahaman siswa terhadap suatu mata pelajaran, dan mendokumentasikan prestasi dan keterampilan siswa. Portofolio dapat membantu guru membuat keputusan-keputusan pengajaran,
mengases tujuan-tujuan kurikuler, dan berkomunikasi dengan siswa dan orang tua. Portofolio menyediakan suatu alternative autentik pada asesmen tradisional yang menghubungkan membaca, menulis, dan Keterampilan-keterampilan Berfikir.
Portofolio memungkinkan siswa memiliki rekaman teratur tentang pembelajaran dan hasil belajar akademik, terlibat dalam asesmen-diri, dan melakukan refleksi atas kemajuan mereka. Portofolio menumbuhkan pada diri siswa suatu rasa menanamkan investasi dalam pembelajaran mereka dan rasa memiliki karya mereka. Pada saat siswa secara sungguh-sungguh merenungkan karya mereka, mereka menjadi semakin reflektif, semakin terampil dalam evaluasi-diri, dan semakin percaya dengan penilaian mereka sendiri. Portofolio dapat membantu tumbuhnya suatu perasaan bangga dan berprestasi. Dengan mengevaluasi suatu kumulasi karya mereka, siswa dapat mengidentifikasi pembelajaran yang berhasil, kesulitan-kesulitan yang masih dirasakan, dan arah untuk karya di masa depan. Pertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini pada saat mengembangkan suatu strategi asesmen berbasis-portofolio:
• Jenis organisasi dan struktur seperti apakah yang akan diterapkan pada portofolio tersebut?
• Bentuk-bentuk karya siswa apakah yang dimasukkan ke dalam portofolio tersebut?
• Bagaimana dan kapan karya siswa tersebut akan dipilih?
• Bagaimana portofolio tersebut akan dievaluasi?
Libatkan siswa sebanyak mungkin dalam keputusan-keputusan tersebut. Memperbolehkan siswa membuat pilihan memberi motivasi dan menumbuhkan minat siswa. Karya-karya tertentu yang dipilih siswa untuk dimasukkan ke dalam portofolio mereka mencerminkan kepribadian mereka dan dapat mengungkapkan bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Beberapa
langkah yang disarankan untuk pengimplementasian asesmen berbasis portofolio adalah seperti berikut:
• Perkenalkan portofolio tersebut dengan membantu siswa memahami apakah potofolio itu dan bagaimana mereka membangun portofolio mereka sendiri. Telaah organisasi dari suatu portofolio. Apabila mungkin, tunjukkan kepada siswa contoh-contoh portofolio yang telah selesai dikerjakan.
• Melibatkan siswa dalam penseleksian jenis-jenis karya yang akan dimasukkan ke dalam portofolio. Bantulah siswa menentukan jumlah karya yang akan dimasukkan portofolio. Siswa seharusnya dengan seksama memilih portofolio di bawah bimbingan guru.
• Menumbhkan tanggung jawab siswa dengan menelaah tujuan-tujuan dan harapan-harapan untuk portofolio tersebut. Informasikan kepada siswa tentang jenis-jenis karya yang dapat diterima dan sesuai. Tetapkan persyaratan minimum dan dorong siswa melampaui persyaratan tersebut. Siswa seharusnya menyusun portofolio mereka secara berurutan dan memberi tanggal seluruh butir portofolio.
• Telaah dan lakukan refleksi terhadap portofolio tersebut pada interval waktu yang teratur. Tetapkan waktu untuk menelaah kemajuan penyelesaian tugas dan memilih butir-butir karya untuk portofolio. Sisihkan beberapa menit untuk siswa pada akhir suatu penyelidikan atau akhir pembahasan suatu Bab untuk memeriksa karya mereka dan mempertimbangkan bagian-bagian mana yang dapat dimasukkan ke dalam portofolio mereka.
• Mengevaluasi portofolio siswa secara teratur, sebagai misal setelah menyelesaikan suatu pokok bahasan atau pada akhir tiap periode laporan kemajuan siswa tiap mata pelajaran. Evaluasi ini dapat meliputi suatu lembar evaluasi untuk asesmen-diri siswa. Dorong siswa untuk berperan serta bersama guru pada saat guru mengases karya mereka.
.
Wawancara
Wawancara didasarkan pada percakapan dengan orang per orang siswa atau siswa dalam kelompok tentang kerja mereka atau respon verbal mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan. Mewawancarai siswa dapat memberikan guru suatu pemahaman terhadap proses berfikir, sikap, kedalaman pemahaman, dan miskonsepsi siswa. Gunakan wawancara untuk mengidentifikasi minat dan sikap siswa, mengungkapkan kekuatan dan kelemahan mereka, dan mengidentifikasi gaya belajar mereka. Kemudian guru dapat memodifikasi strategi-strategi pengajarannya sesuai dengan temuan wawancara tersebut.
Selama melakukan pengamatan reguler terhadap kerja kelompok, mintalah siswa untuk menjelaskan apa yang mereka sedang kerjakan dalam katakata mereka sendiri pada saat mereka menyelesaikan tugas-tugas kelompok. Pada saat guru mendengarkan penjelasan siswa, pertimbangkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengklarifikasi jawaban-jawaban mereka. Dengan cara ini, wawancara tersebut akan membantu siswa untuk merefleksi pekerjaan mereka dan mengorganisasikan pemikiran mereka.Selama mewawancarai siswa, guru dapat bertanya:
• Bagaimana kamu dapat mengerjakan ini lebih baik lain kali?
• Apa yang paling kamu sukai tentang kegiatan ini?
• Apa yang kamu pelajari dari tugas ini?
• Bagaimana kamu dapat menjelaskan ini (ide, konsep, prosedur) dengan cara lain?
• Bagaimana kamu mendapatkan jawaban tersebut?
• Apa sebabnya sampai hal itu terjadi?
• Apa yang akan terjadi apabila kamu mengubah ini (variable, kuantitas)?
• Apakah contoh lain dari ini (proses, benda, kejadian)?
Dalam hal ini peserta didik dapat diminta mengevaluasi studi kasus, menulis definisi serta mempertahankan secara lisan, bermain peran serta membaca dan merekam bacaanya pada tape recorder. Para peserta didik jug adapt mengumpulkan berkas tulisan yang draft serta revisi yang memperlihatkan perubahan ejaan maupun hal-hal yang bersifat mekanis, revisi strategis, serta sejarah perkembangannya menjadi seorang penulis. Dalam hal ini teknik yang sering digunakan adalah teknik portofolio (kerka, 1995).
Berkenaan dengan asesmen kinerja yang tergolong (bersifat) Asesmen otentik frazee dan rudnitzki (1995) mengemukakan beberapa cara implementasi asesmen tersebut, yaitu:
1. Menulis sampel.
2. Berbicara.
3. Essay .
4. Proyek penelitian.
5. Pameran.
6. Portofolio.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Asesmen Otentik"

Poskan Komentar